Selamatdansukses’s Blog

Just another WordPress.com weblog

HADITS SEBAGAI SUMBER SYARI’AT ISLAM

MAKALAH

ULUMUL HADITS
Tentang

HADITS SEBAGAI SUMBER SYARI’AT ISLAM

Disusun oleh:
Kelompok I
TAUHID 408.587
FAUZIL IHSAN 408.138
FAJRUL KHAIRI 408.219
MUHAMMAD ADI 408.492

DOSEN PEMBIMBING:
Drs. M. Basyarudin, M.Ag

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB -A
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
1430 H / 2009 M

PENDAHULUAN

Hadits merupakan sumber syari’at islam yang kedua setelah Al Qur’an. Hadits memiliki fungsi yang sangat penting terhadap Al qur’an. Dalam fungsi tersebut hadits menjelaskan ayat-ayat Al Qur’an yang tidak ada penjelasan yang dapat dimengerti di dalamnya.
Oleh karena itu, dalam makalah ii akan dijelaskan tentang fungsi hadits terhadap Al Qur’an yang terdiri dari beberapa macam fungsi, dalil kehujahan hadits, dan lain-lain.

PEMBAHASAN

HADITS SEBAGAI SUMBER SYARI’AT ISLAM

A. Fungsi Hadits Terhadap Al Qur’an
Beradasrkan kedudukannya, Al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman hidup dan sumber ajaran islam dan sudah jelas bahwasanya tidak dapat dipisahkan antara Al Qur’an dan hadits. Di sini hadits berfungsi dan menduduki sebagai penjelas / sumber ahukum atau ajran yang kedua ( mubayyin ) sebagaimana firman Allah SWT.dalam surat An-Nahal ayat 44:

Artinya : Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkannya kepada manusia.

Menurut Ahmad bin Hanbal fungsi hadits terhadap AlQur’an ada 4:
a. Bayan At Takrir
Disebut juga At Takid dan Bayan Al Istisbat. Yang dimaksud dengan Bayan At Takrir adalah menetapkan dan memperkuat apa yang diterangkan dalam Al Qur’an, sebagaimana surah Al Maidah ayat 6 tentang wudhu’ yang ditakrir oleh hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abi Hurairah:

قا ل ر سو ل ا لله ص م: لا تقبل الصلا ة من ا حد ث حتى يتو ضا ء
b. Bayan At Tafsir
Bayan At tafsir adalah penjelasan hadits terhadap ayat-ayat yang memerlukan perincian atau penjelasan lebih lanjut ayat-ayat Al Qur’an yang masih muzmal, memberikan taqyid, ayat-ayat yang masih mutlaq dan memberikan takhsish ayat-ayat yang masih umum.

1) Merincikan ayat-ayat yang masih mujmal
Yang amujmal, artinya yang ringkas atau singkat yang mengandung banyak makna untuk dijelaskan. Sebagai contoh surah Al Baqarah ayat 43 ….
Dalam ayat tersebut tidak dijelaskan waktu, rukun, syarat, maupun cara sholat, maka muncullah hadits nabi sebagai perinciannya:

صلوا كما راتموني اصلي
Segala hal yang berkenaan dengan sholat sejak dari awal sampai akhir dipraktekkan nabi, begitu pula dengan zakat.
2) Mentaqyid ayat-ayat yang mutlaq
Kata mutlaq artinya kata yang menunjukkan pada hakikat kata itu apa adanya dengan tanpa memandang pada jumlah maupun sifatnya. Mentaqid yang mutlaq artinya membatasi ayat yang mutlaq dengan sifat, keadaan, atau syarat-syarat tertentu. Sebagai contoh surah Al Maidah ayat 38:

Dalam ayat di atas Allah tidak menerangkan jumlah ukuran barang yang dicuri sehingga layak dipotong. Maka muncullah hadits nabi untuk mentaqyid hadits tersebut:

لاتقتع يد اسا رق الا في ربع دينا ر فصا عد ا ( رواه المسلم )

Tangan pencuri tidak boleh dipotong melainkan pada pencurian senuilai seperempat dinar atau lebih ( HR. Muslim ).

3) Mentakhsish ayat yang ‘Am
Kata ‘am adalah kata yang memilki makna dalam jumlah yang banyak. Sedang kat a takhsis adalah kata yang memilki makna yang khusus tertentu/tunggal. Yang dimaksud mentakhsis ‘am adalah membatasi keumuman ayat al qur’an sehingga tidak berlaku pada bagian-bagian tertentu.
Sebagai contoh ayat al qur’an surah annisa’ ayat 11:
Dalam ayat di atas Allah SWT tidak menerangkan bahwa ada sesuatu yang merobah bagian tersebut. Lalu keluarlah hadits Rasul:

لا ير ث القا تل من المقتو ل شيئ
Di mana pembunuh tidak berhak mendapatkan harta warisan
c. Bayan attasyri
Kata Attasyri artinya perbuatan, mewujudkan, meneptapkan aturan hokum yang tidak didapat nashnya dalam al qur’an dengan tujuan menjawab persoalan yang dihadapi umat saat itu. Sebagai contoh hadis tentang haramnya mengawini dua wanita yang bersaudara dalam waktu yang bersamaan, antara istri denagn bibinya.
d. Bayan Nasakh
Kata Annasakh secara bahasa bisa bermacam-macam arti : al ibthal ( membatalkan), al izalah ( manghilangkan atau atagyir a9 mengubah ). Bayan annasakh adalah dalil syara’ yang datngnya kemudian ( hadits ) yang dapat mengubah bahkan menghilangkan hokum yang dating terdahulu ( Al qur’an ).

Sebagai contoh surah al baqarah :

Artinya : Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang di antara kamu kedatangan tanda-tanda maut. Jika ia meninggalkan harta yang banyak berwasiatlahuntuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf”.

Lalu ayat Al-Qur’an ini dinasakh oleh hadits nabi:

ان الله قد اعطى كل ذى حق حقه فلا و صية لوا رث

Artinya : “Sesungguhnya Allah telah memberikan kepadamu tiap-tiap orang haknya ( masing-masing ), maka tidak ada wasiat bagi ahli waris ( RawahuAhmad dan Arba’ah kecuali annasa’I )

B. Dalil Kehujjahan Hadits
Dalil yang menunjukkan bahwa sunah merupakan satu di antara sumber syari’at yang darinya hokum-hukum islam.
1. Iman
Salah satu konsekuensi beriman kepada risalah adalah menerima segala sesuatu yang datang dari Rasulullah dalam urusan agama. Allah telah memilih para Rasul di antara para hamba agar menyampaikan syari’at-Nya kepada umat.
Sebagaimana firman Allah:

Artinya : “Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”.

2. AL Qur’an Al karim
Di dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan kewajiban ta’at kepada rasul. Allah berfirman:

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

C. DAlil-Dalil Kehujahan sunah dari Hadits Nabi
Nabi bersabda:

تركت فكم امر ينى ن تضلوا ما ان تمتكم بهما كتا ب الله و سنتي
Artinya : “aku tinggalkan kepada kalian dua perkatra tidak akan tersesat selama masih berpegang kepada keduanya yaitu kitabullah dan sunnahku.

D. Ijma’
Umat islam telah mengambil kesepakatan bersama untuk mengamalkan sunnah. Bahkan hal itu mereka anggap sejalan dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasulnya yang terpercaya. Kaumuslimin menerima sunnah seperti menerima Al-quran karena berdasar kesaksian Allah yang mana dalam surta Al-anam ayat 50:

“Katakanlah aku tidak menyatakan kepadamu bahwa perbenmdaharaan Allah ada padaku, dan tidak aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku katakana kepadamu bahwa aku seorang malaikat aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.katakanlah apakah orang buta dengan orang yang melihat maka apakah kamu tida memperhatikannya.”

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hadits memiliki kedudukan yang sangat penting terhadap Al Qur’an. Hadits berfungsi sebagai:
a) Bayan At Takrir
b) BAyan At Tafsir
c) Bayan At Tasyri
d) Bayan An Nasakh

B. Saran

Dalam penyusanan makalah ini, pemakalah sangat menyadari bahwa ada kekurangan atau kesalahan baik yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja.
Oleh karena itu, pemakalah mohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan penyusunan makalah dimasa yang akan datang. Terima kasih

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quranul Karim

Majidkhan, Abdul. 2007. Ulumul Hadits. Jakarta: Sinar Grafika Offset

Al-Qathan, Mana’. 2005. Pengantar Study Ilmu Hadits. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Ranu wijaya, Utang. 1996.Ilmu Hadits. Jakarta: Gaya Media Pratama

Al-Khatib, Ijaz.1986. Usul Al-Hadits. Damaskus

No comments yet»

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: